Back
Next

Fauna Maskot Bangsa Indonesia dan Kesuksesan pertamanya di Taman Safari Indonesia
Author Editor
Tuesday - August 8, 2017 11:47 pm
Fauna Maskot Bangsa Indonesia dan Kesuksesan pertamanya di Taman Safari Indonesia
Elang Jawa (Nisaetus bartelsi)
Fauna Maskot Bangsa Indonesia dan Kesuksesan pertamanya di Taman Safari Indonesia
 
Elang  jawa (EJ) merupakan salah satu dari 3 maskot Bangsa Indonesia yang merupakan simbol/maskot  Satwa Langka. Satwa lain adalah Komodo sebagai maskot Satwa Nasional, serta ikan Siluk merah sebagai maskot Satwa Pesona.
 
Pada tanggal 19 Juli 2017, Tim breeding elang jawa - Taman Safari Indonesia (TSI) menyaksikan dari monitor CCTV kandang penangkaran Elang Jawa mentasnya seekor anak elang  jawa pada pukul 10.00 WIB. Elang jawa ini merupakan pasangan yang dipelihara di TSI dan mulai dipasangkan pada tahun 2011. 
 
Pasangan ini dipilih berdasarkan pengamatan perilaku dari keeper burung pemangsa, dan juga DNA sexing. Hal ini perlu dilakukan karena secara fisik, sangat sulit membedakan elang jawa jantan dan elang jawa betina. Betina EJ akan mengerami telur secara bergantian bersama pasanganya selama 49 hari. Induk meretakkan telur pada pukul 09.00 selanjutnya anak berusaha keluar dan berhasil pada pukul 10.00 WIB.
 
Ini merupakan telur ke 5 mereka semenjak tim breeding TSI melakukan perbaikan dan inovasi pada kandang penangkaran mereka pada tahun 2015. Berbagai tantangan dihadapi oleh TSI untuk menangkarkan sata langka Indonesia ini. Telur pertama dari pasangan ini tidak berhasil dibuahi (infertil), sedangkan telur kedua pecah karena induk merusak telur. Perilaku tersebut menjadi cacatan dan penelitian bagi TSI untuk mengoptimalkan pengelolaan yang lebih kondusif. Harapan muncul pada telur ketiga yang berhasil menetas, namun  anak tersebut secara tiba-tiba dimakan oleh induk. TSI tidak putus semangat dan memulai lagi perkawinan EJ ini, dan berhasil menetaskan telur ke 4. Dengan hati-hati dan teliti, tim TSI mengamati anak dan induk, namun anak kembali dimkan oleh induknya. 
 
Mentasnya telur EJ yang kelima ini menjadi diskusi dan pertimbangan yang panjang dari Direksi hingga keeper mengenai langkah apa yang ditepuh bagi anakan ini. Tim melakukan pengamatan dan mengamati induk menyuapi daging cincang secara rutin pada hari kedua. Pada hari ketiga nampak induk berhenti menyuapi anak. Pada momen inilah TSI memutuskan untuk merawat anak dibawah tim ahli nursery burung di kompleks penangkaran burung TSI.
 
Anak EJ kemudian dirawat didalam brooder pada rentang suhu 31-330C dengan tetap menjaga kelembapan pada 45-55%. Makanan pertama anak EJ ini adalah pinky mice atau biasa dikenal umum “cindil”. Untuk mencegah terjadinya imprinting tim selalu memberi makan menggunakan jubah dan boneka induk elang jawa, sehingga perlaku alami tetap terjada dan tidak tergantung pada manusia. Saat ini masa-masa pertumbuhan selalu diamati oleh TSI, dan dengan segala daya dan upaya berharap dan berusaha burung langka Indonesia ini selalu lestari. “Preserve Indonesia’s Natural Heritage-The Javan Hawk Eagle”
 
PROUD MEMBER OF :